Jumat, 05 Agustus 2016

[Review] The Chronicles of Audy: 4R-Orizuka





Bahkan Permen Nano-nano Tidak Mampu Mewakili Kronik Kehidupan Audy


Keterangan buku
Penulis                                        : Orizuka
Penyunting                                 : Tia Widiana
Cover desainer dan illustrator    : Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Proofreader                                : Yuli Yono
Jumlah Halaman                         : 320 Hlm; 19 cm
Penerbit                                      : Penerbit Haru
Tahun Terbit                               : 2013




Hai. Namaku Audy. Umurku 22 tahun. Hidupku tadinya biasa-biasa saja, sampai kedua orangtuaku jatuh bangkrut karena ditipu.
Aku hanya tinggal selangkah lagi menuju gelarku sarjanaku. Selangkah lagi! tapi kedua orangtuaku rupanya tega merusak momen itu.
Jadi sekarang, di sinilah aku berada. Di rumah aneh yang dihuni oleh 4 bersaudara yang sama anehnya. Regan, Romeo, Rex dan Rafael.
Aku, yang awalnya berpikir akan bekerja sebagai babysitter, dijebak oleh kontrak sepihak dan malah dijadikan pembantu.
Terdengar klise? Mungkin, bagimu. Bagiku? Musibah!
Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang mendadak jadi ribet.
Kronik dari seorang Audy.


Oke. 4R ini merupakan buku seri pertama The Chronicles of Audy. Waktu membeli dan selesai membacanya, aku tidak pernah tahu akan berakhir dengan empat seri. Aku mengira buku ini akan diselesaikan dengan dua seri saja. Namun karena buku ini akan kuulas, jadi sepertinya aku harus bersusah payah untuk tidak membandingkan seri ini dengan seri lainnya dulu. Buku ini adalah ‘anak sulung’,  jadi sekarang mari kita membahas dan memperlakukannya sebagai anak pertama yang belum memiliki ‘adik’. Hehe…
Uhm. Kita mulai dari kehidupan Audy Nagisa. Seperti yang ditampilkan di bagian blurbs-nya, Audy mendapat kesialan bertubi-tubi. Dari orangtuanya yang kena tipu, pembayaran kos-nya yang ngadat, dan skripsinya yang belum jelas penampakannya. Masalah itu membuatnya mencari jalan keluar secepatnya, dan sepertinya doanya terkabul dengan segera. Dia bisa menyelesaikan segala tetek-bengek kampusnya dengan menjadi babysitter di rumah 4R.
Awalnya Audy merasa keberuntungan yang menerpanya adalah sebuah keajaiban, namun melihat bagaimana 4R memperlakukannya, sepertinya keberuntungannya mendadak berubah menjadi kesialan yang tidak berujung. Dan di sinilah awal kronik kehidupan seorang Audy Nagisa.
R1: Regan yang dikirainya adalah Constantine a.k.a Keanu Reeves memanfaatkan profesinya dengan menjebaknya. Audy yang memang jatuh cinta pada pandangan pertama tidak kuasa menolak pesona cowok itu hingga tanpa disadari dia terjebak oleh sebuah kontrak sialan yang disesalinya di kemudian hari.
R2: Romeo. Cowok ketombean, paling konyol, norak dan jarang mandi di antara saudara lainnya melakukan suatu kesalahan yang membuat Audy merana dalam sekejap. Audy begitu keki kepadanya. Ya…, karena Romeo hidup dengan santai dan tidak memiliki peran penting di keluarga itu, tentu saja selain membiarkan Rafael (R4) mengonsumsi majalah playboy dan mengajarinya memasang bom.
R3: Rex. Cowok super genius yang pernah Audy lihat secara langsung selama hidupnya. Tidak hanya sampai di situ, Rex yang berbau peppermint juga ahli dalam memasak, membuat Audy merasa bukanlah apa-apa jika berada di dekatnya. Dan seakan hidup Audy belumlah cukup rumit, Rex menambahkan sebuah fakta yang membuat Audy patah hati dalam sekejap.
R4: Rafael. Balita yang sangat jauh berbeda dengan balita pada umumnya ini adalah penyebab Audy bertemu dengan 4R. Rafa yang juga mendapatkan gen sempurna harus bergaya hidup layaknya orang dewasa karena pengaruh kakak-kakaknya. Dia tidak suka mainan anak-anak, tontonannya pun bukan tontonan yang wajar untuk anak seumurannya. Yang paling bikin Audy ngeri, Rafael ini tidak memiliki sisi sopan sedikit pun. Tidak terkecuali kepadanya.
Selama membaca The Chronicles of Audy : 4R ini sepertinya aku tidak pernah memasang ekspresi datar. Ceritanya benar-benar membuatku ikut hanyut dan benar-benar merasakan kehadiran Audy dan 4R. Karakter Audy yang benar-benar bodoh, konyol dan tidak berhenti mempermalukan dirinya sendiri membuatku tidak peduli dengan sekitar sampai aku menyadari bahwa novel ini telah selesai kubaca. Betul kata Rex, keajaiban apa yang membuatnya bisa kuliah di Universitas Gadjah Mada?
Di bawah ini beberapa dialog  yang membuktikan kekonyolan Audy:
“Audy” tanya Rega, matanya masih terpaku pada isi mangkuk. “Apa tadi aku bilang sayur asem?”
“Iya,” jawabku pelan, tahu persis arah pembicaraan ini.
“Terus…, ini apa?” tanyanya lagi sambil menatapku bingung.
“Sayur asem?” jawabku coba-coba.
“Asal kamu dari mana sih?” Romeo ikut bertanya.
“Dari Serang.”
“Sayur asem di Serang pakai kecap?” tanya Romeo lagi, membuatku meringis. Memangnya untuk membuat warna kuahnya jadi kehitaman pakai apa lagi? (Halaman 109)

Serius. Aku yang bukan orang Jawa atau daerah mana pun sayur asem berasal, ngakak sengakak-ngakaknya baca bagian ini, namun lucunya, di antara tawaku, seketika aku begitu simpati dengan nasib dan keadaan otak Audy. Hahaha.  
Selanjutnya Rex. Karakter Rex yang selalu ngomong tanpa basa-basi dan agak nyelekit seakan membungkam Romeo yang pembawaannya santai bagai di pantai, juga bisa menutupi kekurangan Audy yang seperti… itulah. Ada kutipan dari dialog Rex yang bikin aku pengin nabok tapi nggak tega.
“Mungkin kakak saya yang pasang,” kata suara itu setelah beberapa lama, nyaris tanpa aksen. “HP kakak saya ketinggalan.”
“Oh,” ucapku setelah berdeham kecil. “Kalo gitu, boleh saya minta alamat rumahnya?”
“Untuk apa?” tanya suara itu lagi.
Aku berusaha untuk tidak berteriak. “Untuk…, ya, saya mau melamar….”
“Melamar kakak saya?” sambarnya, membuat mulutku terbuka lebar. Tapi sebelum aku sempat berkomentar, dia sudah lebih dulu berkata dengan nada datar, “bercanda.” (Halaman 48)

Oke. Karena aku ingin membuat pembaca review ini penasaran, maka sampai di sini intip-intipnya. Aku hanya ingin bilang, bahwa membaca buku ini tidak ada ruginya, apalagi membelinya.
Orizuka memang tidak pernah mengecewakan pembacanya, baik itu genre komedi romance seperti buku ini, maupun genre lainnya. Dia seolah memiliki magic dalam setiap karya yang entah bagaimana caranya selalu bisa diselipi dengan humor yang jenaka.
Membaca perjalan hidup Audy di sini, membuatku tahu kenapa buku ini diberi judul The Chronicles of Audy. Ya… karena kehidupan Audy memang benar-benar kronik. Terus-menerus. Tidak hilang-hilang. Tapi yang membuatku salut, kisah dalam novel ini diceritakan dengan mengalir, apa adanya, dan sewajarnya. Pokoknya jauh dari kesan sinetron.
Diksinya selalu pas. Tidak kurang dan tidak lebih. Mungkin itulah yang membuat karya-karya Orizuka selalu ringan walau dengan tema yang rumit. Percaya, membaca buku ini bisa membuatmu lepas dari stres walau sejenak.
Uhm, sampulnya lucu, unik dan menarik. Aku tidak tega membiarkan novel ini berjejer di rak bukuku tanpa kubungkus plastik terlebih dahulu. Sayang banget, soalnya. Hihihi.
Karena ending yang masih belum selesai menurut versiku, aku memberi bintang sebanyak empat. Namun jangan khawatir, aku sangat menyarankanmu untuk membaca karya ini, apalagi bagi kamu yang sudah remaja, ugh! Kamu banget, deh! Isinya tidak akan membuatmu merasa rugi jika karena membelinya, uang jajanmu jadi berkurang. Atau justru kering? 
Kronik hidup seorang Audy Nagisa sayang baget jika dilewatkan, apalagi (aku kasih bocoran sekali lagi) 4R cakep-cakep, lhooooo!


Selasa, 07 Juli 2015

[Review] Mencarimu-Retni SB



Judul Buku      : Mencarimu
Pengarang       : Retni S.B.
Penyunting      : Nunung Wiyati
Perancang Sampul : Joko Supomo
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : Mei 2014
Tebal Halaman : 298 Halaman


           
            Di tengah pencarian Matahari menemukan ayah biologisnya, dia bertemu dengan Rakho yang merupakan senior di tempat kerja barunya. Pendekatan yang cukup singkat tidak lantas membuat keduanya menahan rasa yang mereka yakini bernama cinta. Keduanya pun sepakat untuk jadian walau dengan cara sederhana.
            Perjalanan asmara mereka ternyata tidak semudah mereka merasakan cinta, karena Matahari menemukan fakta bahwa ayah Rakho adalah ayahnya juga, yang berarti Rakho dan dirinya adalah saudara kandung. Di tengah kenyataan yang tidak mudah diterima, Matahari masih merahasiakan masalah itu dari Rakho. Tetapi karena perubahan sikap Matahari yang mendadak minggat dari kehidupan Rakho, justru membuat Rakho cemas dan mencari gadis itu, hingga berujung mendapatkan kenyataan yang membuatnya patah hati dalam sekejap.
            Mau tidak mau, Matahari dan Rakho harus membenahi hatinya kembali. Rakho menyibukkan diri dengan bertualang hingga keliling dunia, sementara Matahari resign dari tempatnya bekerja dan kembali kepada kesibukan teaternya yang pernah dia tinggalkan. Perjuangan mematikan cinta mereka akhirnya berbuah manis. Rakho menemukan kembali perempuan yang bisa membuatnya kembali bergairah, sedangkan Matahari menemukan cinta itu dalam diri sahabat yang memang sudah sejak lama mencintainya.
           
Well, cuma segitu gambaran cerita yang ingin saya bagi. Saya tidak berani mengatakan cerita ini berakhir dengan happy ending, karena itu tergantung dengan penerimaan dan selera pembaca. Tapi bagi saya, novel ini patut saya beri bintang sebanyak empat, walau awalnya saya yakin novel ini belum bisa menggantikan posisi His Wedding Organizer di hati.
Tapi ternyata, oh ternyata… novel ini sukses membuat saya sedih, gemas, haru dan tersipu malu dalam sekali duduk. Saya mendapat sensasi itu lagi. Sensasi yang terasa ketika saya tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan bacaan, walau di sisi lain rasa penasaran begitu memberontak.
Oke, lanjut ke penilaian!
Novel ini sangat saya rekomendasikan buat dibaca, kalau perlu harus dimiliki. Tidak akan menyesal mengoleksi Mencarimu di rak buku, walau ada beberapa kekurangannya juga, sih. Salah satunya adalah saya tidak menemukan sudut pandang dari Owan, padahal menurut saya Owan sangat punya peran penting dalam pengembangan cerita. Alhasil saya sebagai fans mendadaknya hanya bisa gigit jari karena penasaran dengan apa yang ada dalam pikirannya. Tapi, biarlah! Saya juga senang dibuat penasaran.
Mbak Retni sukses meramu plotnya, walau berakhir dengan lembut tanpa adanya kejutan. Beda dengan setting/latarnya. Di novel ini settingnya cukup banyak. Beberapa diantaranya digambarkan dengan detail walau sisanya tidak. Saya tidak menemukan keistimewaan Nepal seperti Kepulauan Anambas. Walau begitu saya tetap suka, karena jika semua setting dipaparkan secara detail, maka saya akan merasa bosan, digurui dan diberi kuliah gratis. Ayolah! Cerita juga butuh dinamika, bukan? Tapi jangan salah, yang membuat saya terkesima, setiap membaca novel Mbak Retni, saya selalu merasa ikut berada di tempat-tempat itu. Saya curiga, jangan-jangan Mbak Retni ini memang seorang backpacker? Karena kalau tempat-tempat indah itu hanyalah riset, wuah! Maka dia berhak mendapat penghargaan. Empat jempol, deh! Saya jadi ngiri! Begitu banyak yang saya tidak tahu tentang keberagaman wisata negeri ini.
Penokohannya sangat terasa kuat. Masing-masing karakter tidak terasa asing. Karena cowok-cowok dalam novel Mbak Retni memang sederhana tapi unik. Walau parasnya tidak digambarkan layaknya Dewa atau pembawaannya yang ala-ala pangeran romantis, tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata, ada di bumi dan (semoga) bisa ditemukan. Wkwkwk. Saya sungguh terlena dengan karakter Owan. Walau sedikit ngaco, sinting, preman, jahil, tapi dia memiliki chemistry dari kesederhanaannya. Menarik. Mohon maaf bagi fansnya Rakho. Bukannya saya pilih kasih. Tidak. Hanya saja, saya memang tidak begitu tertarik dengan cowok yang mudah mendapatkan rasa yang bagi saya adalah spesial dan tidak bisa dimiliki secara instan. Tapi tetap, Rakho cakep, kok. Lagi-lagi ini hanya masalah selera saja. Saya jadi cemburu setengah mati kepada Matahari, begitu beruntungnya dia dicintai oleh dua cowok itu, tapi saya rela, karena karakternya yang manis tapi tidak sok manja adalah poin yang jarang dimiliki cewek jaman sekarang.
Untuk pesan-pesan dalam novel tidak usah saya jelaskan. Sekedar info saja, Mbak Retni ini sangat sadar diri. Dia tidak hanya bercerita tanpa peduli dengan mental pembacanya. Petuah-petuahnya cukup menyentil hati walau disampaikan secara implisit. Saya jadi merasa telah durhaka kepada negeri sendiri. Jadi malu.

Jumat, 16 Agustus 2013

[Review] My Partner- Retni SB



Judul   : My Partner
Penulis : Retni SB
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Desain dan Ilustrasi cover : maryna_design@yahoo.com
Tahun Terbit : 2012
Jumlah halaman : 288 halaman



Sinopsis

Sudah jatuh, ketimpa tangga, ketumpahan cat, kepeleset, terjungkal masuk sumur, lecet benjol, berdarah-darah, kemudian dicaplok buaya nganga. Begitulah perumpamaan kisah hidup Tita sekarang. jungkir balik, berantakan secara mengerikan.
Ini bukan mimpi! Papanya dianggap koruptor, jadi tumbal dan masuk penjara. Efeknya? Mama harus dirawat karena depresi, adik mogok sekolah, pacar menghilang, sahabat menjauh, dan ujung-ujungnya, semua asset keluarga disita guna membayar ganti rugi Negara. Seperti belum cukup, dia masih harus berhadapan dengan Dido: cowok keren berkedok dewa yang nyaris melahapnya!
Ini bukan sinetron! Karenanya Tita tak sampai banker air mata hingga ratusan episode. Dia harus tetap berdiri tegak untuk melanjutkan hidup. Dia harus bisa tertawa cerah bagai mercusuar di gelap kehidupan keluarganya. Apalagi akhirnya dia tahu, ada seseorang yang tak membiarkannya sendirian tergulung badai. Seseorang yang tanpa disadarinya, selama ini telah menjaganya.

Ini novel kedua dari Retni SB yang kubaca. Sama dengan Dimi Is Married, buku ini pun juga memiliki keistimewaan yang nanti akan aku ulas. Sebelumnya aku ingin membahas yang lainnya dulu. Aku sudah tidak sabar mengulas tokoh-tokohnya.
Tita. Kesan awal yang aku dapatkan dari gadis ini adalah manis, cantik, lugu, hidupnya selalu aman-aman saja, dilimpahi dengan sejuta kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, namun agak gengsian. Setelah ditimpa masalah hokum ayahnya, dia begitu terkejut dan tidak terima. Seketika hidupnya menjadi kacau. Mulai dari teman-teman yang menjauhinya, hingga kekasih yang memutuskannya, pun ketika Dido yang mengiming-iminginya dengan bantun yang memang sangat dibutuhkannya. Karena keluguannya, dia tidak menyadari niat jahat dari cowok keren itu. Di situlah dia mulai melihat Jodik. Cowok yang selama ini dia tampik, selalu mengundang pertengkaran, dan selalu melemparkan kalimat sarkastik untuknya. Awalnya Tita tidak suka. Tita yang selama ini menganggap dirinya cantik dan sangat lumayan untuk dijadikan pacar merasa tidak istimewa di depan cowok sangar itu. Gengsinya yang selangit membuatnya tidak rela diperlakukan seperti cewek biasa.
Bicara tentag Jodik. Cowok ini memang agak beda. Dia tidak biasa berbicara manis kepada cewek, penampilannya yang garang pun seakan mendukung semuanya. Walau begitu, dia tetap menyimpan sisi lembut, buktinya dialah yang selalu setia, selalu ada untuk Tita walau Tita tidak bisa melihat itu dengan mudah. Dari deskripsi penulis, aku tidak bisa menyimpulkan bahwa cowok ini keren seperti Garda (Dimi Is Married), namun justru itulah sisi menariknya bagiku. Cowok yang apa adaya, tidak neko-neko tapi tetap konsisten. Memang cocok dan pas untuk dijadikan pendamping di segala macam situasi, apalagi di situasi kacau seperti yang dialami Tita.
Keistimewaan yang aku dapatkan dalam kisah kali ini yaitu diangakatnya keadaan yang sudah mendarah daging di negara ini. Korupsi. Melalui kasus ayah Tita, aku jadi tahu bahwa yang tampak di depan mata bisa jadi bukanlah sesungguhnya. Walau buku ini fiksi, tapi aku yakin keadaan ini pun memang berlaku di kalangan pemerintah, pengusaha dan pejabat. Ngeri!

“Ini karena Papa nggak bisa bayar kerugian Negara sebesar 110 miliar. Biar segala macam rumah mobil sampe panci-piring dihitung ya nggak bakalan nyampe angka segitu. Tahu kenapa?”
Dido menggeleng. Dia meneguk ludah.
“Tentu aja karena Papa nggak pernah makan duit itu untuk memperkaya diri! Papa kan cuma dikorbanin, biar orang-orang atasnya selamat!” (Halaman 127)

Di buku ini kita tidak akan mendapat dialog romantis. Apalagi dari sisi Jodik. Jangan harap, deh! Tapi, tapi, tapi… dari kalimatnya yang sederhana dan serius, aku sempat tersenyum malu, loh. Ini buktinya:

“Aku nggak pengin pacaran. Aku pengin menikah. Supaya lebih leluasa ngapa-ngapain.” (Halaman 255)

Dan

“Tapi berkat kekurangajaran Dido, aku jadi berani mengambil langkah. Aku jadi kembali fokus pada apa yang sebenarnya kuinginkan dan kuprioritaskan. Kamu.” (Halaman 257)

Duh, damainya jika semua cowok seperti Jodik. Aku juga mauuuu… 
Mengenai penuturan penulis, sama dengan Dimi Is married. Tetap to the point. Walau begitu perumpamaan yang dipakai terasa fresh. Aku rasa inilah karakter Mbak Retni selain kisah yang selalu diselipi dengan nilai-nilai social dan moral. TOP, deh!
 Kesimpulannya, novel ini amat layak baca untuk berbagai kalangan.

Minggu, 09 September 2012

[Review] Dimi is Married-Retni SB



Judul   : Dimi is Married
Penulis : Retni SB
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Desain dan Ilustrasi cover : maryna_design@yahoo.com
Tahun Terbit : 2010
Jumlah halaman : 384 halaman



Sinopsis
Walaupun belum lama mengenal Garda, Dimi yakin perkawinannya dengan lelaki itu akan berjalan baik. Dan Garda memang tampil layaknya suami idaman. Baik hati, penuh perhatian, keren, romantis, dan selalu memenuhi segala kebutuhannya, lahir-batin. Padahal mereka berdua menikah karena perjodohan cara kilat. Dimi merasa beruntung menjadi Cinderella abad ini.

Tapi kemunculan Donna yang tiba-tiba sungguh telah menjungkirbalikkan harapan dan mimpi-mimpi Dimi. Ternyata model jelita itu pacar Garda.

Dimi baru sadar, Garda tak pernah memperkenalkan dirinya ke lingkungan lelaki itu. Garda juga tak pernah menuntut macam-macam dari dirinya sebagai istri. Bahkan Garda tak pernah melarang aktivitas apa pun yang dilakukan Dimi. Dimi jadi berpikir: cintakah lelaki itu kepadanya?

Kalau Garda tak pernah bisa mencintai dirinya, lalu untuk apa cowok itu menerima perjodohan yang ditawarkan orangtua masing-masing? Toh dia tampan, kaya, sukses… sehingga dengan mudah mendapatkan perempuan mana pun yang diinginkannya…
Rencana apa yang sebetulnya sedang dilakukan Garda?




Ini adalah buku Retni SB yang pertama kali aku baca. Awalnya aku hanya iseng mengambilnya dari rak di toko buku begitu melihat cover-nya yang cantik, namun setelah membaca sinopsisnya, aku jadi ingin memilikinya. Aku membelinya walau tidak yakin 100% novel ini menarik (biasanya aku jarang melirik penulis lain sebelum membaca review karyanya terlebih dahulu).
Setelah membaca halaman pertama, aku jadi yakin bahwa aku tidak salah membelinya. Pemilihan kalimat dari Garda sejak di awal halaman sangat menarik, dan aku memperkirakan halaman selanjutnya pun begitu. Bahasanya gurih, tidak memaksa agar terkesan sastra, dan pastinya masih dijumpai kalimat-kalimat yang ringan seperti di novel teenlit (maklum, waktu itu seleraku lagi transisi dari novel novel remaja ke novel dewasa) pun ketika memasuki sudut pandang dari Dimi. Bahasanya enteng tapi tetap cerdas dan berkelas. Wah, makin suka sama novel ini.
Tokoh-tokohnya modern dan tidak kolot. Meski tema yang diangkat sudah biasa (masalah perjodohan), namun tetap dikemas dengan ‘wow’. Aku suka Dimi. Walau dia tidak cantik (menurut Garda), tapi dia adalah perempuan yang kuat, tegar dan mandiri. Dia tidak lantas merana sambil termewek-mewek karena mendapat suami sebrengsek Garda. Di balik tubuhnya yang mungil, ternyata dia menyimpan mental sekuat baja. Kepeduliannya terhadap lingkungan menjadi poin plus untuk ukuran perempuan masa kini yag biasanya hanya peduli dengan seperangkat alat make-up. Pokonya dia perempuan yang kesannya jauh dari perempian pasrah, terima dan rela. Dialah wonder women asli menurut versiku.
Lain dengan Garda. Cowok maskulin dengan penampilan kece, ditunjang oleh wajah yang perfect justru tidak membuatku (sebagai pembaca) mendamba. Sekedar info, aku biasanya dengan mudah akan jatuh hati kepada tipe-tipe tokoh fiksi seperti ini, tapi Garda memang pengecualian. Garda ini benar-benar brengsek dengan pola pikir laki-laki yang tidak pernah kesusahan. Ya, karena di sni Garda memang pangeran dari kerajaan Hutamaraya yang membuatnya tidak pernah melirik sisi lain dari kehidupan yang serba glamour dan tentu saja, pacar yang glamour.

‘Ya ampun semua pacarku yang cantik berkelas dan tidak memalukan untuk dipamerkan ke teman-temanku saja masih kuanggap belum sempurna, apalagi yang model penggemar Arjuna Wiwaha! (Sorry, aku bukan mengejek tradisi budaya. Tapi oom Harry itu memang penggemar wayang kulit dan campursari. Jadi, buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, kan? Ini hanya masalah selera, Man!)’ (Halaman 12)

Brengsek, kan?
Namun di sinilah menariknya kisah ini. Ada benturan karakter yang benar-benar berbeda dari sepasang manusia. Garda yang selalu menganggap segala bisa beres dengan materi dan Dimi yang tidak pernah menganggap materi adalah segalanya. Karakter yang klop dan melengkapi.
Yang membuatku semakin takjub, penulis tidak lupa menyelipkan berbagai informasi dari keadaan lingkungan sekarang. Hutan yang semakin tandus, pemanasan global yang semakin merdeka dan hewan langka yang terancam punah. Miris. Retni SB sukses mengangkat pesan moral dan sosial dengan cara yang menggigit melalui sentilan Dimi. Aku jadi cemas, takut, khawatir campur prihatin kepada bumi dan segala penghuninya.

“Pemirsa… saya sedang berdiri di area bekas hutan di Riau. Dahulu… sebelum menjadi seperti yang kita saksikan sekarang, ini adalah hutan gambut yang memiliki keanekaragaman hayati sangat kaya. Di sini pernah hidup berbagai pohon besar, bunga-bunga liar nan cantik, beragam rumpun, jamur, sampai lumut… menjadi rumah yang nyaman bagi harimau Sumatra atau Panthera Tigris Sumatrae yang terkenal itu, rusa, kancil, ular dan sekian ribu spesies lainnya… yang banyak di antaranya belum sempat kita pelajari. Dan kini apa yang telah dilakukan manusia terhadapnya? Kita sedang melakukan pemunahan massal….” (Halaman 277)

“Karena hutan gambut di Riau ini sangat dalam dan kaya karbon, maka hanya dengan menebang pohonnya saja… atau merusak tanahnya saja… sudah menimbulkan emisi karbon yang luar biasa sehingga berdampak bagi perubahan iklim global.” (Halaman 277)

Ilustrasi cover-nya membuat buku ini semakin menarik. Patut dijadikan koleksi. Setelah membacanya, aku bahkan langsung nongkrong di google untuk mencari karya-karya lain dari Retni SB. Hehehe…. Aku jadi gemas sama diri sendiri. Dari mana saja aku selama ini? Kok bisa-bisanya aku melewatkan karya penulis sekece Mbak Retni? Duh, katro, deh! Maka dari itu, untuk menghindari kekatroan, aku berencana mengunjungi tempat penyewaan buku yang mungkin memiliki buku-buku Mbak Retni yang sudah langka. Hahaha….
Mbak Retni, aku ikut gabung jadi big fan-mu! Lima bintang untuk karyamu ini!