Senin, 13 Februari 2017

Review The Legend of  Blue Sea
Judul : The Legend of Blue Sea (Pooreun Badaui Junsul)
Genre : Romance, Melodrama, Fantasi, Komedi.
Jumlah Episode : 20 Episode
Stasiun TV : SBS
Sutradara : Jin Hyeok
Penulis Naskah : Park Ji Eun

Pemain :
1.   Jun Ji Hyun : Shim Cheong/ Se-Hwa
2.      Lee Min Ho : Heo Joon Jae/ Kim Dam Ryeong
3.      Lee Hee Joon : Jo Nam Doo/ Lord Yang
4.      Shin Won Ho : Tae Oh
5.      Sung Dong Il : Mae Dae Young
6.      Shin Hye Sun : Cha Shi Ah
7.      Shin Eun So : Shim Cheong muda
8.      Jin Young : Heo Joon Jae muda
9.      Moon So ri : Ahn Ji Joo
1.  Lee Ji Hoon : Heo Cha Hyun
1.  Kim Sung Ryung : cameo
1.  Krystal Jung : Cameo, dll.


Pertama kali membaca kabar bahwa Lee Min Ho akan comeback drama dan akan dipasangkan dengan Jun Ji Hyun, aku langsung mengira-ngira seberapa besar kualitas dorama ini. Terlebih Jun Ji Hyun adalah aktris yang tidak diragukan lagi kemampuannya, meskipun begitu, aku yang merupakan anak Minoz agak sedikit tidak rela dengan pair ini. Kok gini amat, ya, kalau Lee in Ho main drama? Dapatnya yang tua melulu (selain The Heirs) pasangannya. Hihihi. But, it’s okay! Aku mencoba melihat sisi positifnya. Jun Ji Hyun adalah aktris yang sudah menikah, dengan begitu kemungkinan gosip aneh di antara mereka jadi terminimalisir. Yuhhuu!

Meskipun aku adalah anak Minoz, aku tetap mencoba menjadi objektif dalam mengulas drama ini. Aku akan mengungkap semua kelebihan sekaligus kekurangan yang aku dapatkan selama menontonnya, walau mungkin tidak akan selengkap di saat aku mengulas buku. Hehe... harus aku akui, bahwa ini pertama kalinya aku mengulas dorama.

Oke, tanpa banyak mukadimah lagi, aku akan ke intinya.

Sebenarnya aku tidak tahu ingin memulai mengulas kisah ini dari mana, karena di drama ini menggunakan dua zaman yang berbeda, yaitu zaman di era Joseon dan di era modern.

Berawal dari Se Hwa, putri duyung yang terjebak oleh perangkap warga di era Joseon sehingga menyebabkan dia menjadi korban ketamakan Tuan Yang. Se Hwa diikat untuk menghasilkan air mata yang nantinya akan menjadi mutiara dan memenuhi keserakahan Tuan Yang. Pada saat Kim Dam Ryeong (Kepala daerah) berkunjung di wilayah Tuan Yang, Se Hwa meminta tolong kepadanya melalui telepati (suara dalam hati) yang entah bagaimana caranya bisa didengar oleh Kim Dam Ryeong, ternyata di masa lalu, pada saat mereka remaja, keduanya saling mengenal dan saling jatuh cinta. Di sinilah kisah bermula. Legenda yang tidak pernah lepas dengan masa depan.

Di era modern, mereka kembali bertemu. Kim Dam Ryeong  yang bereinkarnasi menjadi Heo Jon Jae menghabiskan masa liburannya di Spanyol dan bertemu Putri Duyung. Meski sempat terpisah, tapi di sinilah awal cinta sekaligus tragedi terjadi di era modern.

Selama menonton drama ini, aku begitu terpukau dengan sandiwara para pemain, namun di antara beberapa cast-nya, aku mengacungkan empat jempol kepada Jun Ji Hyun. Sumpah, dia begitu totalitas. Aku akan dibuat mewek ketika dia sedang mellow dan akan dibuat terpingkal-pingkal ketika dia sedang berlakon bodoh. Beragam karakter disikat habis dengan mudah. Aku bahkan heran sampai bertanya, “Ini orang nggak malu ya, berlakon seperti itu? Nggak malu kelihatan jelek?” Tapi sepertinya pertanyaanku ini hanyalah sebatas pertanyaan tanpa jawaban, karena berlakon apa pun, Jun Ji Hyun tetap kelihatan cantik. Mungkin jika dia tidur sambil ngorok sekali pun tetap cantik. Hehehe..

Selain itu, Lee Min Ho juga mampu mengimbangi Jun Ji Hyun. Sebenarnya sejak awal aku menunggu tampilan aktor ini, karena menurut kabar sebelum tayang, Lee Min Ho akan memerankan dua tokoh, yang mana ini adalah pertama kalinya. Dan sejauh aku menyaksikan sendiri, dia sangat menguasai perannya. Seolah karakter-karakter itu memanglah karakter aslinya di dunia nyata.

Di luar ketenaran aktor dan aktris di dalam drama ini, aku mencoba melihat dari sisi alur ceritanya. Berbeda dengan pendapat beberapa pihak yang mengatakan drama ini hanyalah ‘jual pemain’, justru aku melihat sebaliknya. Penulis naskah sukses menampilkan plot yang rapat, teratur dan terkonsep. Sejak dulu hingga sekarang, aku merasa membuat alur maju-mundur itu tidaklah mudah, sedikit celah saja akan membuat plot jadi kacau dan berantakan. Tapi Park Ji Eun mampu membuat cerita ini mudah dipahami, meski benang merahnya perlahan ditampilkan, bukan sekaligus.

Meski begitu, aku menemukan ending yang tidak sesuai dengan akspektasi aku. Sebagaimana kita tahu, Putri Duyung bukanlah manusia, sehingga sangat tidak logis jika dia mampu bertahan di darat, bahkan berketurunan di sana, namun sepertinya tidak di TLOBS ini. Di sini, putri duyung mampu melakukan itu, mampu melakukan apa yang manusia lakukan. Walau aku tidak menyukai ending drama Man From the Star (salah satu dorama yang mengusung genre yang sama), namun aku justru lebih sepakat dengan ending seperti itu dibandingkan ending TLOBS. Tapi lagi-lagi aku memaksa untuk melihat sisi lain, bahwa drama ini bergenre fantasi, jadi hal yang tidak logis sekalipun mampu diciptakan dengan sesuka hati. Hehehe....

Overall, aku suka sama drama ini. Drama ini adalah salah satu drama wajib koleksi. Bukan karena aku anak Minoz, ya? Percaya, sekali pun bukan Lee Min Ho yang memerankan drama ini, aku tetap akan menjadikannya drama wajik koleksi. J






Selasa, 07 Februari 2017

[Review] Apa Pun Selain Hujan-Orizuka

Takut Diciptakan untuk Membuat Kita jadi Berani

Judul : Apa Pun Selain Hujan
Penulis: Orizuka
Editor: Yulliya
Desainer Sampul: Agung Nugroho
Penerbit: GagasMedia


Wira membenci hujan. Hujan mengingatkannya akan sebuah memori buruk, menyakitinya....
Agar bisa terus melangkah, Wira meninggalkan semuanya. Ia meninggalkan kota tempat tinggalnya. Meninggalkan mimpi terbesarnya. Bahkan, meninggalkan perempuan yang disayanginya.
Namun, seberapa jauh langkah Wira meninggalkan mimpi, mimpi itu justru semakin mendekat. Saat ia sedang berusaha keras melupakan masa lalu, saat itulah ia bertemu Kayla.
Pertemuan itu mengubah segalanya.

Sebuah novel tentang melepakan mimpi di bawah hujan. Tentang cinta yang diam-diam tumbuh bersama luka. Juga tentang memaafkan diri sendiri.

Awalnya saya sama sekali tidak memiliki niat untuk mengoleksi buku ini. Bukannya tidak ingin membacanya, sungguh, hanya orang yang menutup mata yang tidak melihat kehebatan Orizuka meramu kata. Hanya saja, setelah membaca sinopsisnya, saya tidak begitu tertarik mengoleksi, mungkin karena saya sudah terbiasa dengan cerita karya Orizuka yang segar dan lincah, sedangkan melihat sinopsisnya, yang bisa saya tangkap adalah kegelapan dan kegamangan. Sangat bukan Orizuka sama sekali.
Akhirnya, karena suatu insiden, buku ini saya beli juga. Seperti biasa, sebelum membaca isinya, saya menatap sampulnya, tapi karena saya belum mendapat sesuatu yang menarik, saya mencari bookmark-nya, dan setelah dapat, saya mulai sedikit tahu seperti apa isi di dalamnya.
Dalam proses membacanya, semakin lama semakin saya memahami, bahwa Orizuka sama sekali tidak hilang dalam tulisan ini. Gaya penulisnya tetap konsisten, dialognya tetap manis dan penokohannya tetap menarik. Salah satu yang tetap terasa yaitu tokoh cewek yang catchy (sama dengan novelnya yang lain). Hanya saja kali ini berisi konflik yang memang agak serius.
Bercerita tentang Wira yang berusaha menghapus masa lalunya yang buruk. Taekwondo yang menjadi passion-nya justru membuatnya kehilangan sahabatnya, juga perempuan yang disayanginya. Rasa bersalah yang dimulai di hari itu, tepat di saat hujan turun dengan lebat, membuatnya benci, bahkan trauma oleh hujan. Sayangnya, Wira tidak pernah memprediksi sebelumnya, bahwa tempat sebagai pelariannya justru kembali menyeretnya ke memori masa lalu. Pertemuan tanpa sengaja dengan Kayla adalah awal dari jawaban atas dukanya selama ini.
Seperti yang saya bilang sebelumnya, karya ini tidak membuat gaya Orizuka jadi hilang, justru membuatnya lebih berwarna. Sebelum Apa Pun Selain Hujan, konflik serius pernah diangkat oleh penulis dengan judul Our Story. Mungkin ada yang beda dari segi penulisan, karena di Apa Pun Selain Hujan, semua informasi disampaikan dengan apik. Tidak kurang, namun juga tidak berlebihan. Terasa pas.
Dari segi penokohannya pun terasa akrab. Walau saya tidak menemukan sisi mellow dalam tokoh ceweknya, tapi karakter Kayla yang lincah, gesit dan periang membuatnya jadi istimewa. Justru sisi mellow-nya ada pada Wira, tokoh cowoknya. Tapi bukan mellow dalam artian menangis tersedu sambil meratapi nasib yang begitu malang. Bukan. Penulis berhasil menampakkan mellow dari sisi cowok, yang pasti beda dengan mellow-nya cewek.
Beralih dari sisi mellow, saya ingin mengulas keistimewaan buku ini. Di buku ini, saya bisa menemukan pelajaran paling berharga. Bahwa rasa takut harusnya tidak dijauhi, tapi dihadapi. Ketika kita berlari menjauh dari rasa takut itu, justru dia akan semakin kuat mengejar dan membayangi. Tidak akan berakhir dan akan selalu seperti itu. Saatnya kita berbalik dan menghadapi bagai ksatria penentu nasib perang.
Bukankah takut diciptakan untuk membuat kita menjadi berani?

Sebelum mengakhiri review ini, saya ingin membagi beberapa kutipan dialog manis sekaligus menjadi favorit di dalam buku ini. Berikut kutipannya:

Kayla tahu-tahu melongok ke belakang. “Hari ini kamu beda banget, Wira,” komentarnya. Membuat Wira mendadak panik. “Lebih ganteng.” (Halaman 157)

Wira meraih tali ransel Kayla, lalu melepasnya. “Sini. Aku aja yang bawa.”
“Duh..., manisnya,” goda Kayla. Wira mendelik sambil mengenakan ransel itu—yang beratnya mungkin setengah berat badannya sendiri. “Sudah ganteng, baik hati lagi. Anak siapa, sih?”
“Bawel,” tukas Wira setengah bercanda, membuat Kayla terbahak. Wira sendiri berusaha untuk menelan rasa keki dan gelinya pada saat yang bersamaan. (Halaman 158)

Akhirnya, dengan rasa bangga saya merekomendasikan buku ini untuk dikoleksi. Tidak akan rugi pastinya. Saya saja telah menyesal karena tidak membelinya saat cetakan pertama.  


Selasa, 08 November 2016

Review : Istanbul-Retni SB

Judul : Istanbul
Penulis : Retni SB
Penerbit : Grasindo
Desain Sampul : Teguh
Tahun Terbit : 2016
Jumlah halaman : 244 Halaman
Harga Buku : Rp.76.000,-



Sinopsis

Hanis telah jatuh cinta dengan Istanbul sejak sebelum mengunjunginya. Bahkan, Hanis menjadikan Istanbul sebagai tempat honeymoon-nya dengan Edhu, tunangannya. Namun, rencana pernikahan Hanis dan Edhu batal hanya satu hari sebelum hari H. Istanbul pun menjadi ingatan tentang luka.

Akan tetapi, Hanis tetap mengunjungi Istanbul bersama adik dan sahabatnya. Ia ingin menghadapi langsung luka hatinya. Ternyata Istanbul buka hanya tentang luka. Ketika di sana Hanis menemukan banyak hal, kisah-kisah, dan juga sebuah nama. Garu.

Oke. Tanpa banyak basa-basi, saya langsung saja tancap gas menilai buku ini. Ehm… dari fisik, menurut saya buku ini agak beda dari buku Mbak Retni yang lain. Biasanya, ilustrasi sampul depan buku Mbak Retni itu lucu-lucu, namun kali ini nampak ‘berat’. Didominasi oleh warna kuning dengan foto Blue Mosque (semoga saya tidak sok tahu) sebagai background judulnya, dan tidak hanya itu, kali ini bukunya juga dilengkapi oleh daftar isi hingga membuat kesan serius buku ini semakin bertambah.

Eh, tapi yang membuat saya happy lagi dan seolah mendapat Retni SB kembali yaitu pada saat mulai membaca bab pertama. Ciri tulisannya tetap konsisten, tetap khas. Hehe… langsung tidak sabar baca halaman berikutnya.

Dari sinopsisnya saja, kita sudah tahu bahwa kisah kali ini berkisar tentang patah hati. Saya tidak tahu, apakah saya yang berlebihan atau memang benar adanya kalau emosi saya diaduk-aduk oleh kisah ini. Karakter Edhu benar-benar membuat saya jadi kehilangan sopan santun.

Sepanjang membaca bagian-bagian awal, otak saya tidak berhenti mengumpat kata-kata kasar. Serasa saya ingin mematahkan semua bagian tubuhnya, mencincangnya, lalu memblendernya. Langkah terakhir, akan saya jadikan jus untuk disumbangkan ke Taman Safari. Entah hewan apa pun yang bersedia meminumnya. Hahaha… Maaf, kalimat saya agak keras. Ini karena cowok sepengecut Edhu memang berpotensi membuat darah mendidih dalam sekejap. Antagonis sejati.

Tinggalkan Edhu! Kembali ke poin utama. Istanbul. Istanbul adalah tempat Hanis dan Garu bertemu. Di sini pula tunas-tunas asmara tumbuh di antara mereka. Cukup singkat. Tapi saya lebih menyukai proses munculnya asmara pasangan ini dibandingkan dengan pasangan Rakho-Titu (Mencarimu) yang juga saling tertarik saat berkunjung di negara asing. Mungkin karena pribadi Garu yang rada sinis dan tidak terburu-buru, jadi kesannya lebih alami, sedangkan Hanis tidak terkesan centil dan gampangan menerima perhatian Garu. Dia membiarkan perasaanya mengalir bagai air. Oh, iya, pasangan ini mengingatkan saya kepada Jodik-Tita (My Partner). Garu yang sinis dan tajam seperti Jodik, dan Hanis yang pemberontak sekaligus manis mirip dengan Tita.

Sejauh ini, dari semua buku Mbak Retni (total sembilan buku) yang saya baca, saya selalu menemukan kesan penokohan yang tidak didetailkan dari segi fisik, beliau lebih memilih merincikan dari segi karakternya. Namun anehnya, tokoh-tokohnya tetap terasa nyata, dan justru membuat saya (pembaca) suka-suka menentukan dan memilih wajah mereka seperti apa. Hal inilah salah satu alasan kenapa saya tetap setia membeli karyanya. Hahaha….

Gaya bahasa tetap ringan. Santai tapi tidak semaunya. Tidak formal tapi tetap asyik. Garang tapi menarik. Intinya buku ini tetap wajib baca seperti bukunya yang lain. Apalagi bagi orang yang sedang sakit hati. Wah! Kamu bisa banyak belajar dari ketegaran Hanis.
Semua sakit, benci, malu, aib memang tidak bisa lepas dari kehidupan itu sendiri. Ayolah! Hidup itu tidak melulu bertemakan romansa, asmara, dan rasa yang berwarna merah muda, tapi sesekali warna hitam yang pekat dan gelap harus ikut menyempil agar kehidupan tidak berjalan monoton, tapi bervariasi dengan banyak warna.

Sebagai penutup, saya akan membocorkan beberapa kutipan favorit di buku ini. Dimulai dari kalimat Hanis yang membuat saya menggumam, ‘oooohhh…’ seperti di bawah ini,

“Patah hati itu kita terlara-lara karena nggak bisa lanjut berhubungan dengannya, rasanya pengin balikan lagi. Sedangkan sakit hati… ini soal luka harga diri… nggak pengin lagi berdekatan dengan orang yang menyebabkan luka. Kapok atuh!” (Halaman 68)

 Sampai dialog Hanis-Garu yang membuat saya berseru ‘Nah, kan?!’ seperti berikut ini,

“Aku juga suka buku, Gar. Tapi ya… buku-buku fiksi yang bahasanya nggak berat-berat amat. Aku pusing kalau baca yang susah-susah,” aku Hanis sambil terkekeh.

“Lho, itu kan buka kesalahan. Itu hanya soal selera. Yang salah itu, kalau ada pihak yang bisa melarang dan memusnahkan buku hanya karena nggak sesuai dengan seleranya, dengan dalih ancaman terhadap ideologi….” (Halaman 144)

Benar. Nggak perlu maksa diri baca buku-buku berat dengan resiko mabuk karena gaya bahasa yang jungkat-jungkit, yang bolak-balik dan akrobatik hanya karena level baca ingin dibilangi level sastra. Nggak perlu minder. Itu hanya soal selera, dan yang namanya selera, ya, nggak bisa dipaksa. 

Selasa, 30 Agustus 2016

[Review] Me & My Prince Charming-Orizuka









Sinopsis:
Andromeda Arastya adalah cowok yang baru saja dinobatkan sebagai The Most Wanted Male di sekolahku. Selain superimut, dia juga keren, jago main basket, populer; pokoknya segalanya yang membuatnya berhak atas titel itu.
Lalu, suatu hari, keajaiban terjadi. Aku, Cherry Danisha, berhasil pacaran dengannya!
Kupikir aku beruntung, tapi nyatanya, pacarku itu adalah cowok yang sama sekali tidak romantis. Dia tidak pernah mau berduaan denganku. Dia bahkan tidak pernah duduk denganku di kantin!
Karenanya, kabar kalau aku pacaran dengannya dianggap akal-akalanku belaka. Tidak ada seorang pun yang percaya kalau kami berpacaran.
Aku pun jadi bingung. Sebenarnya, bagaimana perasaannya terhadapku?
Apa yang harus kulakukan untuk mengetahuinya?

   Buku ini merupakan buku debut dari Orizuka yang berhasil menjuarai sayembara mengarang novel remaja yang diselenggarakan oleh Puspaswara di tahun 2005. Cover di atas adalah cover baru setelah pembacanya meminta untuk dirilis ulang, sedangkan cover awalnya adalah di bawah ini.



“Gila, hari ini mendung banget, ya?”
“….”
“Kayaknya bakalan ujan gede, nih,”
“….”
“Lo kenapa, sih? Sakit gigi?”

Sumpah! Kalau saya yang jadi Cherry Danisha, saya sudah ambil seember air comberan lalu nyiramin ke wajahnya Andros…. Eh, nggak, ding. Nanti imutnya hilang.
Oke, kalau saya yang jadi Cherry Danisha, sudah saya balas  Andros dengan kalimat “Iya. Gue sakit gigi. Sakit gigi dengerin lo ngebahas hal yang sangat amat nggak penting banget sama sekali kepada gue yang ngomong-ngomong adalah cewek lo, bukan salah satu pakar dari Badan Ahli Geometri dan Geofisika.”
Hahahah…, emang parah, nih, Andros. Wajar jika cewek sesederhana Cherry jadi frustasi sebagai pacarnya. Sudah tidak peka, cuek, tidak romantis pula.
Cherry yang merupakan cewek yang biasa saja alias nggak cantik menurut teman sekolahnya (kecuali Maya, sahabat sejatinya) terpaksa harus menerima kemarahan Alissa Cs., karena dianggap tidak pantas menjadi pacar Andros. Ditambah kedatangan Namie sebagai mantan pacar Andros di kehidupannya, membuat kegalauannya berada di ambang batas. 

“Tapi Dit, Namie sekarang udah balik, Andros pasti lebih milih Namie daripada gue…”

Well, yang bikin suka novel ini adalah kisahnya benar-benar full romance. Konfliknya ringan, yaitu di kisah percintaan remaja saja. Jadi cocok banget dibaca ketika lagi jatuh bangun—eh, maksudnya, jatuh cinta. Hehehe. Apalagi gaya tulisan khas Orizuka yang kece banget, sip lah buat dibaca berkali-kali, makanya kuduk dikoleksi.
Sebenarnya nasib Cherry di sini hampir sama dengan nasib Daza (tokoh cewek di ‘Meet the Sennas’ karya Orizuka juga), apalagi karakternya yang tidak percaya diri, konyol dan lemah kepada cowok yang disukainya. Cowoknya pun sama. Sama-sama suka menarik ulur harapan. Eaaaa…. Tapi justru itu mereka emang cocoknya sama cewek seperti Cherry. Walaupun lemah, tapi mereka tidak akan putus asa. Dan di situlah sisi menariknya bagi cowok seperti Andros.
Saya suka banget sama novel ini. Terutama sama tokoh-tokohnya. Cherry yang lemah tapi tulus, Andros yang kaku tapi imut, Adit yang bodoh tapi diam-diam menyayangi Cherry, dan Maya yang cool dan juga tough. Satu-satunya tokoh yang nggak saya suka di sini adalah Namie. Ya… bukan salah Namie, sih, tapi emang udah kayak gitu takdirnya dibuat sama author-nya. Hehehe.
Sampulnya pas, cocok banget sama isinya, walau di dalamnya saya masih nemuin typo. Tapi di luar dari itu, novel ini cocok banget buat remaja. Nggak perlu pakai sensor, deh, dijamin!
Akhirnya tiba ke penilaian. Karena novel ini memang buat remaja, jadi aku kasih bintang sebanyak… empat!

Penulis                            : Orizuka
Penyunting                     : Ken Kinasih
Perancang Sampul          : Zariyal
Penata Letak                  : Vidia Cahyani
Penerbit                          : Puspaswara
  

[Review] His Wedding Organizer-Retni SB



Judul   : His Wedding Organizer
Penulis : Retni SB
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Desain dan Ilustrasi cover : Kitty Felicia Ramadhani
Tahun Terbit : 2008
Jumlah halaman : 272 halaman


Sinopsis
Mau tahu tentang ketololankau yang paling memalukan? Aku pernah berselingkuh. Dengan lelaki yang pernah menjadi pacarku, sekaligus yang pernah memberiku luka karena dia menikah dengan perempuan yang memintaku menjadi wedding organizer-nya. Bodoh, kan? sangat.
Keterlaluan. Karena aku sampai berani mengorbankan Adra—lelaki yag kecintaannya padaku mungkin hanya mampu disaingi tokoh utama dalam film-film drama—demi hubungan semu yang nggak menjanjikan apa-apa selain sensasi debar jantung. Tolol kuadrat, kalau aku nggak segera sadar untuk menyudahi semuanya. Dan memperjuangkan kembali cinta Adra yang terlanjur pecah.
Masalahnya, Adra tidak setolol aku! Dia menolak! Haruskah aku menyerah? Oh, andai saja aku diberi kesempatan mempersembahkan perkawinan yang luar biasa baginya (dan bagiku)….



Ehm, aku harus mulai dari mana, ya? Uhm. Oke. Pertama, aku kenalkan dulu bahwa novel ini juga merupakan novel yang dirilis ulang.
Kali ini Mbak Retni mengangkat tema yang tidak biasa, yaitu perselingkuhan. Oleh tokoh wanitanya pula. Ckckck….
Berkisah tentang Harsya yang tidak bisa lepas dari jeratan pesona mantan kekasihnya yang sudah beristri, Figo. Parahnya, istri Figo adalah sahabat SMA-nya yang juga merupakan klien yang menyewa jasanya sebagai wedding organizer. Sebenarnya Harsya bukanlah perempuan yang gatal-gatal amat, karena Figo sepertinya mash menyimpan perasaan yang sama kepadanya. Hanya saja situasi dan kondisi mereka benar-benar telah berbeda. Selain Figo yang sudah memiliki Karin, Harsya juga sudah memiliki Adra.
Harsya dan Adra sudah bersahabat sejak mereka masih bocah ingusan. Adra sudah seperti pahlawan bagi Harsya. Setiap Harsya memiliki kesulitan, Adra selalu pasang badan untuknya, pun ketika Harsya meminta pertolongannya untuk dijadikan pasangan di pernikahan Karin-Figo. Adra yang memang menyayangi Harsya menyetujui walau cowok itu memiliki insting bahwa ada yang salah dengan sahabatnya saat itu. Dan di sinilah kerumitan itu dimulai.
Tema perselingkuhan seperti ini sebenarnya membuat gemas, apalagi yang melakukannya adalah tokoh wanitanya. Ugh. Dobel gemes, deh! Aku tidak habis pikir, kok bisa ya, cewek semanis Harsya dengan karier cemerlang yang tentunya tidak membuatnya sulit dalam hal mencari jodoh malah terjerat cinta terlarang? Cowok lain pada ke mana?Ada juga si Adra, cowok ganteng dengan kebaikan setinggi gunung Himalaya yang terima-terima untuk dijadikan tameng. Ya, ampun! Kegilaan macam apa ini?
Namun, mari kita menghilangkan masalah kebodohan Harsya, karena di luar itu sebenarnya ada banyak kesan yang bisa kita dapatkan dalam buku ini. Membaca buku ini membuat kita semakin paham bahwa kebahagiaan datang dari rasa syukur. Bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Seperti halnya Harya yang harusnya telah memiliki sahabat seperti Adra yang tulus mencintai, bukannya malah mengharapkan cinta lain dari orang yang terlarang.
Ada tokoh Lisa yang selalu disebut-sebut di dalam buku ini. Walau si Lisanya sendiri tidak pernah ditampilkan secara nyata (selalu melalui dialog tokoh lain) namun keberadaannya tetap terasa menurutku. Dan inilah yang bikin aku jadi salut. Mbak Retni selalu sukses dalam pemaparan tokoh-tokohnya.
Mengenai diksi seperti biasa. Selalu fresh dan lincah. Retni SB banget lah! Tapi karya kali ini, takaran kesegarannya tidak seperti karya lainnya. Mungkin karena tema yang diangkat memang benar-benar serius. Jadi yang lebih terasa adalah ketegangan. Tapi aku tetap suka. Apalagi dengan penyelesaian konflik yang begitu manis.
Mbak Retni juga tidak pernah lupa mengajak kita ikut bertualang dengan tokoh-tokohnya. Kali ini di Taman Nasional Betung Kerihun. Karena sebelumnya aku tidak pernah mendengar hutan ini, itu berarti wawasanku jadi bertambah lagi karena buku ini. Hahaha….
Kesimpulannya aku sangat suka novel ini. Walau masih kutemukan sedikit kekurangan. Contohnya ketiadaan label dewasa pada covernya. Kalau saja buku Cinta Paket Hemat dilabeli dewasa, kenapa buku ini tidak? Padahal narasi/deskripsi/adegan layak sensor untuk di bawah umurnya banyak dari Cinta Paket Hemat. Tapi hal itu tidak mengurangi penilaianku terhadap buku ini.
Buku ini kuberi bintang sebanyak empat!