Judul : Ingin Kupilih Takdirku
Penulis: Desti Annor
Editor: Said Kamil
Ketebalan : 264 hlm
Genre: Religi
Penerbit: Tinta Medina (Tiga Serangkai)
Berkisah tentang empat tokoh yang dihubungkan oleh takdir, namun tetap memiliki keresahan hidup masing-masing. Galetta yang kokoh setelah menemukan prinsip baru, Maizy yang menemukan hakikat harga diri seorang perempuan, Haq dengan kasih dan kejujurannya, dan Aji bersama penemuan makna komitmen sesungguhnya.
Sebuah perjalanan hidup yang memberi mereka pemahaman akan kuasanya tangan Pencipta, menyajikan makna bahwa takdir Tuhan terasa indah jika diperankan dengan sebuah keikhlasan.
Jujur saja, karya ini merupakan karya religi yang pertama kali saya baca selama melepas bangku SMA, jadi wajar apabila di saat membacanya, saya membandingkan dengan novel-novel religi karya Ari Nur, Asma Nadia dan Habiburrahman El Shirazy yang saya baca pada saat itu. Hasilnya? Berikut jawaban saya.
Secara pribadi, ada tiga hal yang membuat saya membeli sebuah karya (untuk penulis yang baru ingin saya baca karyanya), pertama sampul. Sampul adalah visual yang mengundang saya menentukan akan mengambil karya tersebut dari rak toko buku atau mengabaikannya. Dua, Blurbs. Bagian belakang yang biasanya menampilkan potongan kisah. Tiga, review dari pembaca lain. Jika ketiganya oke, maka saya akan beli.
Tapi berbeda dengan buku ini. Saya mendapatkannya dengan melanggar prinsip, mengingat sampulnya tidak membuat saya tertarik. Ilustrasi jejak kaki di bibir pantai, dipadukan warna coklat telah memberikan kesan gelap dan kesedihan. Hm, sangat bukan saya. Saya menyukai warna yang cerah dan ceria dengan ilustrasi yang lucu, terkecuali untuk genre Horor dan Sci-fi. Entah Tiga Serangkai memang memiliki karakter sampul seperti itu atau bagaimana, saja juga kurang paham, sebab baru kali ini juga saya membaca karya keluaran penerbit ini.
Lalu mengapa saya membeli jika kesan pertama saja buku ini gagal seleksi?, sebab saya terlanjur penasaran karena diberi bonus baca dua bab oleh penulisnya, alhasil saya memutuskan untuk mendapatkan buku ini. Harus menuntaskan kisah kesuraman Galetta dan kemanjaan Maizy.
Lanjut!
Plot karya ini memakai alur maju-mundur-maju-mundur (nggak pakai cantik, ya?), dan sejauh pengalaman membaca fiksi, saya merasa plot seperti ini memang biasanya memberikan rasa penasaran kepada pembaca meskipun resiko cerita akan tampak jalan di tempat. Untungnya, penulis menghilangkan keraguan saya, ceritanya tetap mengalir dengan gerak cepat. Sayangnya di tengah rasa penasaran saya, ada hal yang sedikit mengganggu yaitu perubahan latar yang seolah tiba-tiba (karena tanpa tanda pemisah di setiap bagian) hingga saya harus mengulang ke paragraf sebelumnya lagi untuk meyakinkan bahwa telah terjadi pergantian bagian.
Lanjut!
Penokohan. Semua karakter saya suka, terkecuali Aji. Aji ini memang dikesankan romantis di dalam cerita. Yang jadi masalah, saya tidak suka dengan tokoh yang romantis. Wkwkwk (padahal saya pecinta genre romance). Maksud saya begini, romantisnya Aji adalah romantis yang pada umumnya disepakati oleh orang-orang, namun 'romantis' bagi saya memiliki makna dan aplikasi berbeda. Kesimpulannya, romantisnya Aji tidak berarti romantis bagi saya. Saya tidak menyukai tokoh cowok yang seolah-olah bisa berdarah-darah karena asmara. Ekhem.
Lanjut!
Gaya bahasa. Ada tiga poin yang biasanya saya lihat dalam menentukan gaya bahasa penulis. Narasi/deskripsi, dialog tokoh dan perumpamaan (Ya, iyalah! Apalagi?).
Saya suka cara Mbak Desti mendeskripsikan sesuatu, tidak berbelit-belit dan tidak berputar-putar. Hal itu pun menjadi selaras dengan ketebalan buku yang pas pula.
Dialog. Untuk bagian ini saya akan mengatakan 'Iyes'. Dialog di karya ini ada banyak, mungkin perbandingannya 40 dengan 60 di bagian narasi/deskripsinya. Saya suka dialog yang banyak, selain tidak membosankan, juga membuat saya lebih dekat dengan tokohnya.
Perumpamaan. Mbak Desti menggunakan perumpamaan yang indah, mulus dan syahdu. Bagi saya yang memang terbiasa membaca fiksi metropop, yang bahasanya to the point, bagian ini sudah saya kategorikan sebagai karya yang sastra, walau tidak 100% juga.
Simpulannya, dengan narasi/deskripsi yang indah namun pas, dialog yang nyaris baku dan perumpamaan yang 'nyastra', gaya bahasa Mbak Desti terkesan lembut, lirih dan halus. Jauh dari kesan serampangan. Saya seperti membaca fiksi kepunyaan majalah Gadis dengan versi lebih panjang.
Ada bagian paling mengganggu, yaitu di halaman 165. Saya bahkan tidak paham meski dibaca berulang-ulang (karena pesan penulisnya saya tidak boleh spoiler, maka saya tidak menampilkan paragraf tersebut).
"Jadi, Mbak, tolong jelasin ke saya halaman itu maksudnya apa? Kenapa Mbak Desti tega sekali memasukkan paragraf di bagian buntut yang membuat saya jadi pusing? Memangnya saya Barbie yang harus dibuat pusing dulu palanya?"
Oke, skip, dramanya cukup.
Bagian mengganggu lainnya adalah surat dari Haq untuk Galetta yang tidak ditampilkan. Galetta dikesankan bertanya dan berharap (walau tidak berlebihan) akibat surat itu, tentu saja membuat saya ingin tahu, "isi suratnya seperti apa, sih, sampai-sampai Galetta yang kaku itu jadi tersentuh?"
Tapi bagian terbaiknya adalah... Tetedet tedeeeetttt...
Quote di halaman 216 yang berisi penggalan doa Rasulullah SAW saat hijrah ke Thaif. Saya sampai baca berulang-ulang. Dan kali ini asli bukan karena pusing, tapi merinding. Saya berpikir, jika saja seorang Rasul merasakan dirinya selemah itu, mengapa manusia bisa menegakkan kepala dengan congkaknya? Quote ini pun saya anggap menjadi kesimpulan kisah-kisah di dalamnya.
Bagian terbaik lainnya adalah tema yang diangkat penulis. Jika biasanya novel religi mengangkat dan fokus pada satu tema, karya ini justru punya tema yang cukup komplit. Ada rasa kekeluargaan, sahabat dan asmara yang dikemas apik dalam balutan religi, jadi pembaca bisa memilih pesan keagamaan dengan lebih leluasa.
Terakhir, saya menyukai prinsip yang dipegang kuat oleh tokoh-tokohnya. Begitu erat, kuat dan kokoh. Dan bukankah seorang muslim tanpa sebuah prinsip sama saja dengan mati?
Sekian review panjangnya. Dari 1 sampai 5, saya kasih bintang sebanyak 4. Yeay!
Sabtu, 21 Juli 2018
Kamis, 15 Juni 2017
[Review] Hujan-Tere Liye
Perpaduan Imajinasi dan Logika yang Liar
Judul Buku : Hujan
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Sampul : Orkha Creative
Halaman : 320 Halaman
Ini pertama kalinya saya meresensi karya Tere Liye, maka seperti biasa, saya ingin menceritakan sedikit kilas balik mengapa saya membeli buku ini.
Saya tahu penulis Tere Liye sejak SMA kelas sebelas, tepatnya tujuh tahun lalu. Waktu itu Hafalan Shalat Delisa sudah nangkring manis di beberapa tempat penyewaan buku, termasuk penyewaan yang sering saya kunjungi. Akan tetapi saya tidak pernah merasa tertarik untuk meliriknya, karena pada saat itu saya lebih menggilai novel romance remaja.
Selama menempuh masa kuliah, saya semakin kecanduan oleh fiksi berujud buku. Nama Tere Liye semakin dikenali seiring dengan karya-karyanya yang diangkat menjadi film. Saya pun tahu kalau tulisannya sangat menginspirasi dari berbagai kalangan, bahkan seorang teman (laki-laki) yang saya tahu tidak tertarik dengan hal-hal berbau fiksi mengagumi penulis inspiratif ini. Lagi-lagi saya tidak terpancing, di kala itu kata ‘inspiratif’ sama dengan ‘menggurui’ di telinga saya. Masa berlalu, Tere Liye tidak terlirik.
Akhirnya, empat hari yang lalu, tepatnya 16 April 2017, saya memiliki kesempatan untuk memburu buku yang sudah ditarget sejak lama. Di saat itu saya melihat Hujan dan Tentang Kamu di antara barisan buku lainnya di Gramedia. Waktu itu saya merasa sudah saatnya lah untuk mencoba mengenali karya Tere Liye, mungkin dimulai dari Hujan atau Tentang Kamu atau keduanya. Tapi melihat kondisi kantong yang kering, mau tidak mau saya harus meletakkan kembali salah satunya di rak buku. Apa daya, duit tak sampai.
Setelah menimbang berdasar sinopsis dan harga buku, saya memutuskan membeli Hujan. Sampul yang didominasi warna biru dengan ilustrasi tetes hujan di bagian belakang membuat buku terkesan manis dan romantis. Tanpa sabar, saya langsung membaca halaman pertama begitu mendapatkan waktu yang pas.
Saya salah besar. Ternyata, di menit pertama saya membaca buku ini, kesan berat pada karya-karya Tere Liye langsung luluh. Bahasanya cukup halus, rapi dan terjaga walau saya tidak menemukan gaya santai di sana. Tema dan cara penyajiannya membuat saya sulit untuk tidak membandingkannya dengan Luna Torashyngu, karyanya berupa perpaduan imajinasi dan logika yang liar. Bedanya, membaca Hujan seperti saat saya membaca karya terjemahan. Ya, itu tadi, bahasanya sangat rapi. Sedangkan Luna masih terkesan santai dan meremaja. Mungkin karena beberapa karyanya memang didesain untuk remaja.
Setelah membaca beberapa bab, saya jadi mengangguk-anggukkan kepala. Jadi mengerti mengapa Tere Liye bisa dikagumi oleh pembaca berbagai kalangan. Karakter tulisannya universal sekali, membuat pembacanya yang justru ikut beradaptasi dengan gayanya. Termasuk saya.
Tidak usah ditanya tentang kesalahan penulisan di dalamnya, itu sudah tidak penting lagi. Menurut saya, penulis sekelas Tere Liye seharusnya tidak diragukan lagi tata bahasanya. Kalaupun ada, saya tidak sempat lagi melihatnya karena sudah terhanyut dengan ceritanya.
Awalnya sulit untuk menentukan genre Hujan ini. Di bab-bab awal, saya merasa buku ini bergenre fantasi, lalu berubah ke petualang, dan terakhir menjadi ilmu pengetahuan. Yang kalau anak kekinian bilang sih, Science fiction. Tapi apa pun genrenya, nilai inspiratif tetap menyelimuti karya ini. Dan satu lagi, ketakutan saya seketika musnah. Saya tidak menemukan kalimat menggurui di sini. Yeay!
Sebagai pecinta romance, sepertinya saya harus bersabar membaca kisah Esok-Lail di dalam. Kisah mereka berjalan begitu apa adanya, mengalir seperti air. Ya, saya tahu kalau Tere Liye bukanlah penulis yang menyukai adegan menye-menye (dilihat dari postingannya di fanpage FB), tapi tetap saja saya merasa gemas dengan karakter Esok. Apa semua laki-laki jenius memang seperti itu? Karena matilah saya yang berkarakter aktif, lincah dan ekspresif ini jika (ekhem) mendapatkan jodoh yang seperti itu. Hahaha....
Yang saya sukai dari Hujan ini adalah plot yang kece dan penggambaran yang luar biasa. Serius, saya memberi bintang lima kapada penulisnya karena berhasil membuat saya turut berimajinasi. Latarnya begitu detail, deskripsi suasananya juara. Walau penulis tidak menyebutkan negara yang diambil sebagai latar secara langsung, saya tidak pernah menganggap bahwa negara itu adalah Indonesia. Entah karena deskripsinya yang bukan Indonesia sekali atau memang karena novel ini bersetting 2042-2050, jadi saya sebagai manusia di jaman 2017 tidak meramalkan Indonesia akan seperti itu di masa depan. Alasan inilah saya menyebutkan bahwa Tere Liye adalah penulis imajinatif yang liar.
Terakhir, saya ingin menyinggung tentang ending tanpa berusaha spoiler.
Menuju bagian akhir, dada saya bergemuruh, takut, ngeri tapi masih bisa menghela napas di ujung kalimat. Mungkin karena ini kali pertama saya membaca karya Tere Liye, jadi saya tidak tahu bagaimana gaya endingnya. Bisa saja kan, dia adalah penulis yang tega terhadap tokoh-tokohnya?
Bagaimanapun saya tidak kecewa membaca Hujan ini. Walau merasa tertinggal karena baru membaca karya Tere Liye, saya tidak menyesal karena Hujan lah yang menjadi pertama bagi saya. Melalui Hujan, saya menjadi penasaran dengan karyanya yang lain. Jarang-jarang loh, ada penulis yang membuat saya kecewa sekaligus lega ketika membaca ending karyanya.
Rabu, 22 Februari 2017
[Review] TYPO-Christian Simamora
Judul : TYPO
Penulis : Christian Simamora
Editor : Alit Tisna Palupi
Designer Sampul : Dwi Anissa Anindhika
Penerbit : Twigora
Di saat usianya yang keempat belas tahun, Maisie Varma dijodohkan
dengan Josh Mallick oleh kedua ayah mereka. Meskipun sama-sama tak suka dengan
keputusan sepuhak itu, Mai dan Josh memilih untuk belajar beradaptasi dengan
satu sama lain ketika membangun nyali untuk menentangnya.
Tapi kemudian, di malam pergantian tahun, Oma Josh yang baru mendengar
tentang perjodohan itu langsung protes keras. Bukan itu saja, beliau memaksa
parah ayah untuk membatalkan pertunangan malam itu juga. Semuanya pun kembali
seperti semula, kecuali bagi Mai. Dia sungguh-sungguh tak menyangka, status
tunangan Josh selama beberapa hari membuatnya jatuh cinta untk kali pertama.
Novel #jboyfriend kali ini merupakan kronologis cinta putri
satu-satnya keluarga Varma. Tentang gelenyaryang membungkus perasaan Mai dalam
bahagia, juga tentang hal-hal manis yang membuat pipinya sering merona merah.
Novel ini juga akan bercerita banyak tentang anak bungsu keluarga
Mallick. Si mantan tunangan yang bertanggung jawab membuat Mai jatuh hati
sekali lagi, juga yang mengingatkannya bahwa perasaan itu tak lebih dari
sekadar typo. Kesalahan hati yang harus Mai koreksi.
Tanpa
banyak mukadimah lagi, aku langsung ke poinnya, ya. Oke. Ehm. Ini adalah novel
Bang Chris yang paliiiiiiing lama kubaca. Walau bacanya tidak hampir seminggu
juga, sih, tapi dibandingkan dengan novelnya yang lain, TYPO memang lebih tebal
dan lebih gendut. Hihihi....
Bercerita
tentang Josh dan Mai yang dijodohkan oleh kedua orangtua mereka di usia remaja,
sayang, pertunangan itu terpaksa dibatalkan ketika Oma Josh tidak sepaham
dengan para orangtua. Rasa diam-diam suka yang perlahan muncul di hati Mai
terpaksa gadis itu abaikan. Mai terpaksa mencabut benih asmara yang perlahan
tumbuh dengan segera.
Sayang,
tidak semua benih tercabut dengan sempurna. Hingga sisa benih perlahan tumbuh
dan tampak subur ketika mereka kembali dipersatukan oleh proyek kerja sama ayah
mereka.
Mai
yang terlihat polos dan lugu justru menawarkan kesepakatan yang cukup nekat dan
gila kepada Josh. Walau awalnya Josh menolak karena tidak ingin nantinya
menyakiti Mai, cowok itu tetap tidak kuasa menerima suguhan Mai yang begitu
menggoda. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak saling menggunakan rasa selama
kesepakatan mereka berlaku, jika salah satunya menggunakan rasa, mereka akan
menganggap bahwa itu sekadar TYPO belaka.
Sama
dengan novel sebelumnya, TYPO pun masih dalam seri #jboyfriend. Kali ini
pilihan tokoh jatuh pada Josh Mallick dan Maisie Varma. Genrenya pun sama
dengan seri #jboyfriend yang lain, yaitu murni romance.
Sepertinya
di novel ini, Bang Chris kembali mengusung konsep cerita yang metro dengan
tokoh-tokoh yang glamour, hanya saja kali ini TYPO menampilkan background
konflik yang berbeda. Tidak sama dengan sebelumnya, Mai dan Josh justru bertemu
di saat mereka masih remaja, ditunangankan pula. Jadi pada saat mereka bertemu
di masa kini, dialog mereka pun terasa santai dan akrab.
Selama
membaca novel Christian Simamora, aku menemukan beberapa kesamaan, salah
satunya adalah penulis selalu memberi konflik batin semacam keragu-raguan
perasaan oleh tokoh-tokohnya. Kali ini keraguan itu dimiliki oleh Josh yang
memang bukan tipe cowok yang ingin berkomitmen. Josh tidak menyadari perasaan
sesungguhnya kepada Mai sehingga Mai harus mengalami yang namanya patah hati.
“Pengakuan
lo malam itu benar-benar menyakitkan, tapi gue bersyukur lo mengatakannya tanpa
filter sama sekali. Karena hanya dengan itu gue bisa sadar. Lo sukses bikin gue
menyadari apa yang gue inginkan sebenarnya. Dan pelajaran paling berharga
lainnya adalah: cinta tak akan kunjung kau temukan kalau sejak awal memang tak
pernah ada.”
“Mai,
gue—”
“That’s
okay, Josh.” Mai menepuk-nepuk lengan cowok itu. “semuanya sudah baik-baik saja
kok. Nggak ada yang perlu lo khawatirkan.”
“Mai,
tapi lo bilang soal typo—”
“Yes,
about that. Mai terdiam untuk beberapa saat. “Gue jatuh cinta sama lo. Gue yang
bodoh, gue yang salah.” (halaman 438)
Dah.
Sampai di situ saja cuplikan dialog yang ingin aku bagi. Kalau kebanyakan,
takutnya aku bisa spoiler. Hhehe....
Oke.
Di antara novel-novel Bang Chris, TYPO memiliki quote paling banyak. Aku sampai
punya kesempatan untuk berasa jadi Mai selama membaca novel ini. Maksudnya,
kegemaran nempel-nempel post it itu loooohhh....
Uhm...
kesimpulannya novel ini sama romantisnya dengan novel Bang Chris yang lain.
Wanita banget! Bahasa yang pop membuat narasi-deskripsinya nggak bikin
ngantuk. Kalau kamu menyukai gaya Bang Chris bercerita, kamu akan menyesal
kalau melawatkan TYPO ini.
Sampai jumpa di
review buku Bang Chris yang laiiiiinnnn....
Salam PUPUNEWE
CIWIKEKE-nya Abang. J
[Review] Tiger on My Bed-Christian Simamora
Judul : Tiger on My Bed
Penulis : Christian Simamora
Editor : Dini Saraswati
Designer Sampul : Dwi Anissa Anindhika
Penerbit : Twigora
“UNTUK MENARIK PERHATIAN LAWAN JENISNYA, HARIMAU BETINA BISA
MERAUNG SAMPAI 69 KALI SELAMA 15 MENIT.”
Jai harus mengakui, Talita koum Vimana membuatnya penasaran. Dia
duduk di pangkuan Jai, membuai dengan suara tawanya, dan bahkan tanpa ragu
mengkritik kemampuannya merayu lawan jenis. Hebatnya lagi, semuanya terjadi
bahkan sebelum Jai resmi berkenalan dengan Tal.
“SELAYAKNYA TARIAN , HARIMAU JANTAN DAN BETINA MELAKUKAN KONTAK
FISIK SATU SAMA LAIN, DISERTAI SUARA RAUNGAN DAN GERAMAN.”
Jujur saja, alasan utama Tal mendekati Jai justru karena dia sama
sekali bukan tipe idealnya. Dia dipilih karena alasan shallow; indah
dilihat mata, asyik buat diajak make out. Jenis yang bisa dengan gampang
ditinggalkan tanpa harus merasa bersalah.
“TAHUKAH KAMU, SETELAH PROSES KAWIN SELESAI, HARIMAU JANTAN
SELALU MENINGGALKAN BETINANYA?”
Tiger arrangement,
begitu keduanya menyebut hubungan mereka. Dan ketika salah satu pihak terpikir
untuk berhenti, pihak lain tak boleh merasa keberatan. Jadi dan Tal menikmati
sekali hubungan kasual ini. Tak ada tanggung jawab, tak ada penyesalan...
sampai salah satu dari mereka jatuh cinta.
Selamat jatuh cinta.
Selama beralih ke penerbit Twigora, ini adalah novel kelima Bang
Chris yang aku baca. Dan sama dengan novel-novel sebelumnya, aku tertarik
membeli karena bagian blurb-nya yang memang menarik. Ya, walau aku yakin aku
akan tetap membelinya sekalipun cover belakang novelnya kosong. Hahaha... ini
Bang Chris loh, penulis yang sukses mewujudkan impian para cewek walau sekadar
berwujud fiksi.
Berkisah tentang Talita a.k.a Tal yang patah hati akibat
penghianatan tunangannya, berkat usulan Fika, salah satu sahabatnya, dia
mencari rebound untuk membuat lukanya menghilang. Sayang sekali, cowok
a.k.a Jai yang dijadikan rebound-nya justru membuatnya terlena sehingga
memunculkan suatu perasaan yang tidak dipikirkan sebelumnya. Perasaan yang
dengan bodohnya tidak ingin diakuinya.
Berbeda dengan Tal, sejak awal Jai memang tampak mempunyai indikasi
yang berbeda dengannya. Cowok itu tidak pernah takut mengatakan ketertarikannya
kepada Tal, walau tetap ragu melangkah lebih jauh karena perjanjian mereka dan traumanya
di masa lalu. Ternyata laki-laki itu pun pernah mengalami yang namanya patah
hati.
Selama membaca novel ini, aku tidak pernah berhenti gemas oleh
karakter Tal. Benar-benar tidak mengerti dengan apa yang cewek ini inginkan.
Kalau biasanya aku selalu simpati kepada tokoh cewek dalam karya-karya Bang
Chris, di sini justru sebaliknya, aku lebih simpati dan berpihak kepada Jai.
Saking gemasnya, aku baca novel ini sambil teriak-teriak sendiri, “bodoh banget
nih cewek!”. Berkat Tal, quote populer yang entah dari mana sumbernya
macam ‘cewek selalu benar’ jadi tidak ada apa-apanya. Tidak benar sama sekali! Well,
jika memang Bang Chris ingin memberi kesan ‘menggemaskan’ kepada Talita, aku
acungkan empat jempol kepadanya. Tercapai banget!
Bang Chris kembali menggunakan point of view tiga di
karyanya kali ini, dan sama dengan novel sebelumnya, pemilihan sudut pandang
pengarang tidak lantas membuat penceritaan karakter tokohnya jadi mati. Tokoh
Tal sangat terasa (Aku sudah mengatakan kalau dia menggemaskan, bukan?),
begitupula dengan Jai. Lengkap dengan segala aksesoris-aksesoris sebagai
pendukung karakter yang terasa pas, mendukung penggambarannya semakin ngena’.
Gaya bahasa yang digunakan juga masih terasa lincah, nge-pop
dan tidak kejur alias kaku. Licin banget kayak belut! Membaca karya-karyanya
juga bikin aku banyak belajar. Ada aja hal baru yang aku dapatkan di setiap
membaca novelnya. Risetnya itu loh, mancap! Hahaha.... Aku rasa gaya Bang Chris
ini tidak ada duanya, dan itulah alasan kenapa aku masih setia jadi pembacanya
hingga sekarang.
Ada hal yang mengejutkan yang aku dapatkan dalam novel ini, yaitu
sedikit fakta tentang buaya.
“Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan selama sepuluh tahun, ditemukan fakta tujuh puluh persen buaya betina
kembali lagi ke buaya jantan yang sama untuk bereproduksi. Dan itu konsisten
terjadi dari tahun ke tahun.” (Halaman 276)
Lalu kalau faktanya seperti itu, filosofi seperti apa yang
menyebabkan ‘buaya darat’ dijadikan konotasi tukang selingkuh? Hahaha.... mari
kita cari bersama.
Di antara puluhan dialog—
atau ratusan? (Sori, aku nggak hitung)—di dalam buku ini, aku paling suka
dialog di bawah ini:
“Gue masih nggak habis pikir, lo
masih aja in denial kayak gitu.” Jai menggeleng sedih. “Tapi terserah. Gue akan
bilang ini sekali aja: gue nggak akan meminta apalagi memohon. Tapi begitu lo
berbalik dan keluar dari pintu itu, gue nggak akan pernah mengharapkan lo untuk
bersama gue lagi.”
Mata Tal terbelalak. “gue nggak
salah dengar, tadi itu... ancaman kan?”
“Lo juga nggak perlu bilang apa-apa
selain kembali ke tempat tidur ini dan bertahan sama gue sampai esok pagi.”
“Seumur-umur baru kali ini gue
dipaksa—”
“Gue nggak lagi maksain kehendak.”
Sekali lagi, cowok itu menggeleng. “Gue hanya menolak patah hati untuk kedua
kalinya karena orang yang sama.” (Halaman 371)
Sumpah, Jai itu COWOK banget! Cewek kayak Tal emang seharusnya
digituin, bandel, sih! Kekekekeke....
Oke. Aku rasa ulasannya cukup sampai di sini. Aku nggak mau terjadi
spoiler di antara kita. Jadi, dengan senang hati aku memberi bintang
sebanyak lima pada buku ini. Yuhhuuu!!!
Sampai jumpa di
review buku Bang Chris yang laiiiiinnnn....
Salam PUPUNEWE
CIWIKEKE-nya Abang. J
Selasa, 21 Februari 2017
[Review] Meet Lame-Christian Simamora
Judul : Meet Lame
Penulis : Christian Simamora
Editor : Prisca Primasari
Designer Sampul : Dwi Anissa Anindhika
Penerbit : Twigora
Dear all,
Saat ini, aku sedang terlibat perasaan dengan dua orang cowok
sekaligus.
JANIEL
Bahkan sampai
detik ini pun, Janiel masih belum ada tanda-tanda ngeh mengenai betapa patah
hatinya aku karenanya. Yah, aku memang nggak ada rencana untuk memberi tahu
sih—buat apa juga? Memangnya situasi bakal berubah? Memangnya Janiel punya
perasaan terpendam juga padaku sehingga pernyataan cintaku itu mendorongnya
untuk memutuskan Putri dan memacariku?
DANIEL
Di hari
perpisahan itu, aku melakukan sesuatu yang percuma juga untuk aku sesali.
Daniel Kelvin Vincensius—itu nama panjangnya—mencuri ciuman dan keperawananku
pada hari yang sama. Meninggalkan Indonesia beberapa jam kemudian. Membiarkan
aku bertanya-tanya tentang arti kebersamaan singkat itu selama
bertahun-tahun... sampai akhirnya aku capek sendiri.
JANIEL atau
DANIEL
Atau lebih baik
nggak dua-duanya saja? Aku lagi nggak kepengen bermain-bermain dengan perasaan
dan kebahagianku sendiri. Apalagi karena kamu dan aku sama-sama tahu: love
hurts, love gives you pain.
You know what... FUCK LOVE! Maybe this is for the best. Sekian dan terima kasih.
Tertanda,
AKU YANG LAGI
STRES SENDIRI
Berbicara
mengenai karya Bang Chris, aku langsung ngebayangin tokoh-tokoh yang glamour
dalam setting metropolitan. Penggunaan bahasa yang ngepop banget dan fleksibel.
Ceritanya yang ‘cewek banget’ dan romantis pakai banget pula. Selama mengusung
genre dewasa, ada beberapa yang nggak bisa lepas dari karyanya, yaitu cerita
yang ditaburi unsur erotis, tapi Bang Chris tetap tidak pernah lupa kok memberi
cap ‘NOVEL DEWASA’ di cover belakangnya. Jadi masih amanlah. Hehehe....
Dalam Meet Lame
ini, aku menemukan perbedaan dari beberapa novel Bang Chris sebelumnya.
Seingatku, selama aku membaca karya Bang Chris (kecuali Shit Happens yang
memang belum aku baca), aku selalu menemukan penggunaan point of view
tiga dalam menyampaikan cerita, namun di Meet Lame ini sendiri, cerita
disampaikan dalam point of view dengan tokoh ‘Aku’ yang tidak diberi
nama. Wah, aku sendiri membayangkan bagaimana tantangan seorang penulis yang
tidak memberi nama kepada karakter utamanya hingga akhir.
Bercerita ‘Aku’
yang menyukai dua laki-laki sekaligus. Janiel yang menjadi cinta diam-diamnya,
dan Daniel yang mencuri milik paling berharganya di masa lalu. Kemunculan
kembali dua laki-laki yang nyaris bersamaan itu membuat ‘Aku’ kelabakan dengan
perasaannya sendiri. ‘Aku’ menginginkan Janiel untuk membalas perasaannya, namun
di sisi lain ‘Aku’ juga masih tidak dapat menghilangkan kenangan yang
diciptakan Daniel untuknya. Kalau meminjam lagu Afgan, ‘Aku’ mengalami Cinta
Dua Hati, jatuh di dua hati.
Selama membaca
Meet Lame ini, aku juga nyaris dibuat plin-plan oleh tokoh Janiel dan Daniel.
Janiel yang terkesan sebagai cowok baik-baik, cakep dan romantis menjadi idaman
para cewek, sedangkan Daniel yang digambarkan brengsek di awal kemunculannya mendadak
menjadi sosok yang ‘diinginkan’ karena imej bad boy-nya. Namun aku
yakin, setiap pembaca memiliki selera yang beda soal cowok idaman. Jadi memilih
antara Janiel dan Daniel tergantung selera pula.
Yang beda lagi
dalam Meet Lame ini adalah pemilihan karakter cewek yang di luar kebiasaan
penulis. Kali ini, entah karena alasan apa, penulis menggambarkan ‘Aku’ sebagai
cewek yang curvy. Tidak seperti Cindy, Reina dan Kendra yang pastinya
pembaca setia Bang Chris tahu memiliki pesona yang berbeda. Namun hal itu tidak
menjadi halangan untuk aku membayangkan sosok yang berbeda pula. Meskipun Bang
Chris menjadikan Denise Bidot sebagai ‘Aku’ pada fitur cast di
wattpadnya, aku justru membayangkan sosok Nina Dobrev di saat season
terakhirnya di serial The Vampire Diaries. Mungkin karena salah satu ilustrasi
dalam novel ini menampilkan wajah ‘Aku’ mirip dengan Elena Gilbert, komplit
dengan gaya ‘Aku’, Daniel dan Janiel yang seolah berjalan mengejar sesuatu yang
persis sama dalam salah satu poster The Vampire Diaries. Hehehe... Ini menurut
aku lho, jadi kalau rada ngawur, ya dimaklumi.
Uhm... secara
keseluruhan, aku suka sama Meet Lame ini. Entah kenapa konflik di dalamnya
membuat aku jadi melihat sosok-sosok karakternya yang begitu nyata. Aku bahkan
bertanya sendiri, “Kalau aku punya masalah percintaan seperti ‘Aku’, aku bakal
ngambil keputusan yang sama, nggak?”
Well, sampai di
sini cuap-cuap aku. Aku memberi bintang sebanyak empat kepada novel ini.
Bagaimana pun juga aku masih merasa ada beberapa yang nggak sesuai maunya aku
(bukan berarti jelek lho, ya?). Ini kembali lagi ke masalah selera. Meski
begitu, aku jamin novel ini wajib koleksi, karena sama dengan novelnya yang
lain, Bang Chris sukses membuat aku tidak cukup sekadar membaca sekali. Aku
akan membaca kali kedua, ketiga dan seterusnya.
Sampai jumpa di
review buku Bang Chris yang laiiiiinnnn....
Salam PUPUNEWE
CIWIKEKE-nya Abang. J
Senin, 13 Februari 2017
Review The Legend of Blue
Sea
Judul : The
Legend of Blue Sea (Pooreun Badaui Junsul)
Genre :
Romance, Melodrama, Fantasi, Komedi.
Jumlah Episode
: 20 Episode
Stasiun TV :
SBS
Sutradara : Jin
Hyeok
Penulis Naskah
: Park Ji Eun
Pemain :
1. Jun
Ji Hyun : Shim Cheong/ Se-Hwa
2.
Lee
Min Ho : Heo Joon Jae/ Kim Dam Ryeong
3.
Lee
Hee Joon : Jo Nam Doo/ Lord Yang
4.
Shin
Won Ho : Tae Oh
5.
Sung
Dong Il : Mae Dae Young
6.
Shin
Hye Sun : Cha Shi Ah
7.
Shin
Eun So : Shim Cheong muda
8.
Jin
Young : Heo Joon Jae muda
9.
Moon
So ri : Ahn Ji Joo
1.
Lee
Ji Hoon : Heo Cha Hyun
1.
Kim
Sung Ryung : cameo
1.
Krystal
Jung : Cameo, dll.
Pertama kali membaca kabar bahwa Lee Min Ho akan comeback drama dan
akan dipasangkan dengan Jun Ji Hyun, aku langsung mengira-ngira seberapa besar
kualitas dorama ini. Terlebih Jun Ji Hyun adalah aktris yang tidak diragukan
lagi kemampuannya, meskipun begitu, aku yang merupakan anak Minoz agak sedikit
tidak rela dengan pair ini. Kok gini amat, ya, kalau Lee in Ho main
drama? Dapatnya yang tua melulu (selain The Heirs) pasangannya. Hihihi. But,
it’s okay! Aku mencoba melihat sisi positifnya. Jun Ji Hyun adalah aktris yang
sudah menikah, dengan begitu kemungkinan gosip aneh di antara mereka jadi
terminimalisir. Yuhhuu!
Meskipun aku adalah anak Minoz, aku tetap mencoba menjadi objektif
dalam mengulas drama ini. Aku akan mengungkap semua kelebihan sekaligus
kekurangan yang aku dapatkan selama menontonnya, walau mungkin tidak akan
selengkap di saat aku mengulas buku. Hehe... harus aku akui, bahwa ini pertama
kalinya aku mengulas dorama.
Oke, tanpa banyak mukadimah lagi, aku akan ke intinya.
Sebenarnya aku tidak tahu ingin memulai mengulas kisah ini dari
mana, karena di drama ini menggunakan dua zaman yang berbeda, yaitu zaman di
era Joseon dan di era modern.
Berawal dari Se Hwa, putri duyung yang terjebak oleh perangkap
warga di era Joseon sehingga menyebabkan dia menjadi korban ketamakan Tuan
Yang. Se Hwa diikat untuk menghasilkan air mata yang nantinya akan menjadi
mutiara dan memenuhi keserakahan Tuan Yang. Pada saat Kim Dam Ryeong (Kepala
daerah) berkunjung di wilayah Tuan Yang, Se Hwa meminta tolong kepadanya
melalui telepati (suara dalam hati) yang entah bagaimana caranya bisa didengar
oleh Kim Dam Ryeong, ternyata di masa lalu, pada saat mereka remaja, keduanya
saling mengenal dan saling jatuh cinta. Di sinilah kisah bermula. Legenda yang
tidak pernah lepas dengan masa depan.
Di era modern, mereka kembali bertemu. Kim Dam Ryeong yang bereinkarnasi menjadi Heo Jon Jae
menghabiskan masa liburannya di Spanyol dan bertemu Putri Duyung. Meski sempat
terpisah, tapi di sinilah awal cinta sekaligus tragedi terjadi di era modern.
Selama menonton drama ini, aku begitu terpukau dengan sandiwara
para pemain, namun di antara beberapa cast-nya, aku mengacungkan empat jempol
kepada Jun Ji Hyun. Sumpah, dia begitu totalitas. Aku akan dibuat mewek ketika
dia sedang mellow dan akan dibuat terpingkal-pingkal ketika dia sedang berlakon
bodoh. Beragam karakter disikat habis dengan mudah. Aku bahkan heran sampai
bertanya, “Ini orang nggak malu ya, berlakon seperti itu? Nggak malu kelihatan
jelek?” Tapi sepertinya pertanyaanku ini hanyalah sebatas pertanyaan tanpa
jawaban, karena berlakon apa pun, Jun Ji Hyun tetap kelihatan cantik. Mungkin
jika dia tidur sambil ngorok sekali pun tetap cantik. Hehehe..
Selain itu, Lee Min Ho juga mampu mengimbangi Jun Ji Hyun.
Sebenarnya sejak awal aku menunggu tampilan aktor ini, karena menurut kabar
sebelum tayang, Lee Min Ho akan memerankan dua tokoh, yang mana ini adalah
pertama kalinya. Dan sejauh aku menyaksikan sendiri, dia sangat menguasai
perannya. Seolah karakter-karakter itu memanglah karakter aslinya di dunia
nyata.
Di luar ketenaran aktor dan aktris di dalam drama ini, aku mencoba
melihat dari sisi alur ceritanya. Berbeda dengan pendapat beberapa pihak yang
mengatakan drama ini hanyalah ‘jual pemain’, justru aku melihat sebaliknya.
Penulis naskah sukses menampilkan plot yang rapat, teratur dan terkonsep. Sejak
dulu hingga sekarang, aku merasa membuat alur maju-mundur itu tidaklah mudah, sedikit
celah saja akan membuat plot jadi kacau dan berantakan. Tapi Park Ji Eun mampu
membuat cerita ini mudah dipahami, meski benang merahnya perlahan ditampilkan,
bukan sekaligus.
Meski begitu, aku menemukan ending yang tidak sesuai dengan
akspektasi aku. Sebagaimana kita tahu, Putri Duyung bukanlah manusia, sehingga
sangat tidak logis jika dia mampu bertahan di darat, bahkan berketurunan di
sana, namun sepertinya tidak di TLOBS ini. Di sini, putri duyung mampu
melakukan itu, mampu melakukan apa yang manusia lakukan. Walau aku tidak
menyukai ending drama Man From the Star (salah satu dorama yang mengusung genre
yang sama), namun aku justru lebih sepakat dengan ending seperti itu
dibandingkan ending TLOBS. Tapi lagi-lagi aku memaksa untuk melihat sisi lain,
bahwa drama ini bergenre fantasi, jadi hal yang tidak logis sekalipun mampu
diciptakan dengan sesuka hati. Hehehe....
Overall, aku suka sama
drama ini. Drama ini adalah salah satu drama wajib koleksi. Bukan karena aku
anak Minoz, ya? Percaya, sekali pun bukan Lee Min Ho yang memerankan drama ini,
aku tetap akan menjadikannya drama wajik koleksi. J
Langganan:
Postingan (Atom)



